Bersegeralah

Dari untaian debu – debu Qadisiyyah
yang menjadi saksi mendidihnya
lembah sungai Al-Furat
yang digoreskan oleh tinta emas
70 veteran Badar..

Menggetarkan seluruh jazirah
Tertutup rapat dalam laci sejarah
Telah datang masa dimana hanya ada dua corak
dan blok – blok terbagi menjadi 2 kemah

Bersegeralah menuju gelanggang . .

Menuju arena sebelum petang
Sebelum mentari tergelincir dan ditutupnya perbatasan
pertanda tuntasnya perjanjian

Advertisements
Tagged , , ,

Sabda Panji Hitam

Aku senandungkan sabda langit kepada bumi
Prihal tenggat waktu yang tersurat dalam sudut sakral perjanjian..

Aku senandungkan sabda langit kepada bumi.
Prihal panji hitam yang terbit di ufuk syam

Aku senandungkan sabda langit kepada bumi.
Tentang risalah yang sempat terkubur oleh sumpah serapah para filsuf

Tentang sel – sel atom yang bermetamorfosa dalam lingkaran kosmos
Terseok-seok membuka lembaran naskah
yang menjadi pembeda antara luth & gomorah
Antara Sykes-Picot dan Alfatih
Antara teori kebebasan pasar “the wealth of nation” sang arbab Adam Smith
dengan prinsip kebahagian “Al-Falah” yang paripurna

Dari pekik tauhid para kombatan yang berjumlah lusinan
menduduki kota – kota yang dijaga oleh ribuan algojo pagan

. . . Dintara gemericik mata air sungai al-furat . .

Diluar akal sehat..
Yang menjadi pertanda nostalgia itu datang kembali..

Tagged , , , , , ,

Celana Isbal

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : ” Kainnya seorang mu’min sampai otot betisnya, kemudian ke tengah betisnya kemudian sampai ke kedua mata kakinya, dan yang di bawahnya (di bawah mata kaki) maka dia di neraka.”

Assalamualaykum Ikhwah Fillah ..

Banyak hadist – hadist dari berbagai riwayat yang menyampaikan pentingnya memakai celana di atas mata kaki (untuk ikhwan) bahkan hadist tersebut mencapai derajat mutawatir.
Lalu bagaimana menyikapi fenomena di zaman ini dimana ikhwan – ikhwan yang celananya mengatung ditambah jenggot lebat yang bersarang di dagunya kemudian dihantam dengan berbagai stigma dan stereotip. Ada yang menyebutnya ekstrimis, teroris, atau lebih menghina lagi disebut dengan ‘onta arab’ . . Naudzubillah..

Yang menarik lagi adalah, mengupas hadist dari salah satu sahabat Nabi,

dari Ibnu Umar. Rasulullah SAW bersabda, لاَ يَنْظُرُ اللهُ إِلَى مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ
Allah tidak memandang orang yang menyeret – nyeret pakaiannya dengan penuh kesombongan.
(H.R Bukhari)

Dari kalangan orang – orang moderat yang mengutamakan nalar daripada adab & sunnah, maka vonis ‘sombong’ yang tertera pada hadist tersebut akan menjadi kontekstual dan kultural. Apakah celana yang menyentuh tanah dapat dikatakan sombong, padahal orang tersebut rajin sedekah, orangnya santun, dll ??
Mereka mengatakan bahwa pada zaman itu, mungkin celana yang melebihi mata kaki dianggap sebagai budaya yang sombong.
Lalu apakah ada rincian lebih lanjut dari para sahabat mengenai kriteria sombong itu seperti ini atau seperti itu? sayangnya tidak ada.

Logika seperti ini sama saja dengan quote berikut: “Percuma saja berhijab tapi hati & kelakuannya tidak dihijab”. Padahal konteks syariat (zahir) dan hati (batin) adalah berbeda. zahir dapat dilihat oleh penilaian manusia sedangkan hati & niat hanya Allah lah yang tahu.

Begitulah islam sangat mengutamakan perkara syar’ie yang sampai saat ini tongkat estafet tersebut mampu di warisi oleh para pendahulu kita, para salafus shalih.
Jadi untuk masalah zahiriah, istilah ‘Don’t judge book by its cover’ sayangnya tidak berlaku untuk ummat muslim.
Stelah hujjah tegak ribuan tahun yang lalu, kita diwajibkan untuk menampakan keislaman kita kawan.

Ya anggaplah kita memiliki pendapat lain tentang isbal (celana dibawah mata kaki) maka berlaku adil lah bagi yang ber-cingkrang, jangan ledek & hina mereka yang berkhidmat kepada sunnah.
Itaqullah . . takutlah kepada Allah.. takutlah kepada ancaman yang di firmankan-Nya bagi yang gemar ber-istihza (mengolok – olok), Allah memberikan berita suram kepadanya:

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya bersenda-gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya, kamu selalu berolok-olok?”. [At Taubah:65]

لاَتَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِن نَّعْفُ عَن طَائِفَةٍ مِّنكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ

Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami mema’afkan segolongan dari kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengadzab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. [At Taubah:66].

– huallahualam-

Tagged , , , , ,

Cahaya

Pada setiap perjalanan mencari cahaya
selalu diiringi dengan kegelapan.
Seperti perpindahan siang & malam
yg selalu berputar setia

Dan di pergilirkannya cahaya itu pada tiap – tiap ufuk
Hingga kita mampu mengerti bahwa
hitam & putih itu memang fitrah adanya

Cahaya . .

Setiap kita dibuat bingung mencari nya dikala siang . .
Terang benderang.

Terkadang ingin berhenti sejenak . . sekedar menepi
namun gelap selalu mengancam
Terbayang nikmatnya mereka yg selalu menikmati siang dan terlelap
damai dikala gelap

Namun aku pun terus bergerak, meretas detik
dengan hikmah..

“Dan Al-Qur’an itu Kami turunkan berangsur-angsur agar engkau
membacakannya kepada manusia perlahan-lahan dan Kami
menurunkannya secara bertahap”
(Al-Isra – 17: 106)

Hingga untaian kata ‘Rahmatan Lil Alamin’ itu dapat aku
genggam dengan bangga dihadapan penitip Nasib

Pada akhirnya.. jawaban itu akan tersingkap
Bahwa gelap bukanlah suatu pilihan.
Ya.. akan ku katakan dengan lantang..
Bahwa gelap adalah suatu ‘kondisi’ dimana ketiadaan cahaya
pada suatu sudut ruang.

Ruang – ruang semesta yg harusnya kau nyalakan
dengan kalam yang maha Kekal.
Sebelum gelap melenyap hilang ditelan hari yang akan selalu Siang..

“Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkanya (di dalam dadamu)
dan membacakannya. Apabila Kami telah selesai membacakannya,
maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian sesungguhnya Kami yang akan
menjelaskan (maknanya)”.
(Al-Qiyamah-75: 16-19)

Tagged , ,

Sajak Diponegoro

Meretas rintisan pusaka
Riwayat sorban putih dari tanah jawa
Jelajah kisah java Oorlog
Restu perlawanan dari Ottoman

Ihwal tanah yang kau rebut paksa
Dan bengisnya Cultuurstelsel
Dari moncong Van Den Bosch
Sang algojo benteng amsterdam

Babad Diponegoro.. (1825)

Sebuah saksi sejarah akan perjuangan berdarah
Membentang dari jogjakarta hingga pantai selatan
Bumihanguskan keserakahan.

Disini kami mengenang . . Sisa semangat untuk menang..
Bongkar segala kepalsuan . . Tipu daya kaum pagan ..

Tagged , , ,

Hukum Memakai Celana Ngatung

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : ” Kainnya seorang mu’min sampai otot betisnya, kemudian ke tengah betisnya kemudian sampai ke kedua mata kakinya, dan yang di bawahnya (di bawah mata kaki) maka dia di neraka.”

Assalamualaykum Ikhwah Fillah ..

Banyak hadist – hadist dari berbagai riwayat yang menyampaikan pentingnya memakai celana di atas mata kaki (untuk ikhwan) bahkan hadist tersebut mencapai derajat mutawatir.
Lalu bagaimana menyikapi fenomena di zaman ini dimana ikhwan – ikhwan yang celananya mengatung ditambah jenggot lebat yang bersarang di dagunya kemudian dihantam dengan berbagai stigma dan stereotip. Ada yang menyebutnya ekstrimis, teroris, atau lebih menghina lagi disebut dengan ‘onta arab’ . . Naudzubillah..

Yang menarik lagi adalah, mengupas hadist dari salah satu sahabat Nabi,

dari Ibnu Umar. Rasulullah SAW bersabda, لاَ يَنْظُرُ اللهُ إِلَى مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ
Allah tidak memandang orang yang menyeret – nyeret pakaiannya dengan penuh kesombongan.
(H.R Bukhari)

Dari kalangan orang – orang moderat yang mengutamakan nalar daripada adab & sunnah, maka vonis ‘sombong’ yang tertera pada hadist tersebut akan menjadi kontekstual dan kultural. Apakah celana yang menyentuh tanah dapat dikatakan sombong, padahal orang tersebut rajin sedekah, orangnya santun, dll ??
Mereka mengatakan bahwa pada zaman itu, mungkin celana yang melebihi mata kaki dianggap sebagai budaya yang sombong.
Lalu apakah ada rincian lebih lanjut dari para sahabat mengenai kriteria sombong itu seperti ini atau seperti itu? sayangnya tidak ada.

Logika seperti ini sama saja dengan quote berikut: “Percuma saja berhijab tapi hati & kelakuannya tidak dihijab”. Padahal konteks syariat (zahir) dan hati (batin) adalah berbeda. zahir dapat dilihat oleh penilaian manusia sedangkan hati & niat hanya Allah lah yang tahu.

Begitulah islam sangat mengutamakan perkara syar’ie yang sampai saat ini tongkat estafet tersebut mampu di warisi oleh para pendahulu kita, para salafus shalih.
Jadi untuk masalah zahiriah, istilah ‘Don’t judge book by its cover’ sayangnya tidak berlaku untuk ummat muslim.
Stelah hujjah tegak ribuan tahun yang lalu, kita diwajibkan untuk menampakan keislaman kita kawan.

Ya anggaplah kita memiliki pendapat lain tentang isbal (celana dibawah mata kaki) maka berlaku adil lah bagi yang ber-cingkrang, jangan ledek & hina mereka yang berkhidmat kepada sunnah.
Itaqullah . . takutlah kepada Allah.. takutlah kepada ancaman yang di firmankan-Nya bagi yang gemar ber-istihza (mengolok – olok), Allah memberikan berita suram kepadanya:

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya bersenda-gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya, kamu selalu berolok-olok?”. [At Taubah:65]

لاَتَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِن نَّعْفُ عَن طَائِفَةٍ مِّنكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ

Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami mema’afkan segolongan dari kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengadzab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. [At Taubah:66].

– huallahualam-

Tagged , , , ,