Apa Itu Syubhat?

Diantara perkara yang terang dan gelap, ditengah-tengahnya ada Syubhat.
Menurut definisi syar’ie Syubhat adalah ketidakjelasan atau kesamaran.

Seorang muslim yang baik seyogyanya sangat berhati-hati dalam perkara halal-haram, sunnah-bid’ah, iman-kufur.
Mereka yang mengamalkan kehati-hatian dalam perkara tersebut dikategorikan sebagai muslim yang wara.
Perkara yang Syubhat/samar dianjurkan untuk ditinggalkan sampai ia mengetahui hukum jelasnya dari sumber ilmu yang shahih dan valid.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى  الشُّبُهَاتِ فَقَدْ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ، كَالرَّاعِي يَرْعىَ حَوْلَ الْحِمَى يُوْشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيْهِ، أَلاَ وَإِنَّ  لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ   مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ  أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ

Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka siapa yang takut terhadap syubhat berarti dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan. Sebagaimana penggembala yang menggembalakan hewan gembalaannya di sekitar (ladang) yang dilarang untuk memasukinya, maka lambat laun dia akan memasukinya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan dan larangan Allah adalah apa yang Dia haramkan. Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah hati “. (HR. Bukhari dan Muslim)

Advertisements

MAKNA USHUL DAN FURU

Islam adalah Aqidah, Syariat dan Akhlaq. Ketiganya menjadi satu kesatuan tak terpisahkan, satu sama lainnya saling terkait dan saling menyempurnakan. Ketiganya terhimpun dalam Ajaran Islam melalui dua ruang ilmu, yaitu : USHULUDDIN dan FURU’UDDIN.

Ushuluddin biasa disingkat USHUL, yaitu Ajaran Islam yang sangat PRINSIP dan MENDASAR, sehingga Umat Islam wajib sepakat dalam Ushul dan tidak boleh berbeda, karena perbedaan dalam Ushul adalah Penyimpangan yang mengantarkan kepada kesesatan.

Sedang Furu’uddin biasa disingkat FURU’, yaitu Ajaran Islam yang sangat penting namun TIDAK PRINSIP dan TIDAK MENDASAR, sehingga Umat Islam boleh berbeda dalam Furu’, karena perbedaan dalam Furu’ bukan penyimpangan dan tidak mengantarkan kepada kesesatan, tapi dengan satu syarat yakni :ADA DALIL YANG BISA DIPERTANGGUNG JAWABKAN SECARA SYAR’I.

Penyimpangan dalam Ushul tidak boleh ditoleran, tapi wajib diluruskan. Sedang Perbedaan dalam Furu’ wajib ditoleran dengan jiwa besar dan dada lapang serta sikap saling menghargai dan menghormati

B. MENENTUKAN USHUL DAN FURU’
Cara menentukan suatu masalah masuk dalam USHUL atau FURU’ adalah dengan melihat Kekuatan Dalil dari segi WURUD (Sanad Penyampaian) dan DILALAH (Fokus Penafsiran).

WURUD terbagi dua, yaitu :
1. Qoth’i : yakni Dalil yang Sanad Penyampaiannya MUTAWATIR.
2. Zhonni : yakni Dalil yang Sanad Penyampaiannya TIDAK MUTAWATIR.

Mutawatir ialah Sanad Penyampaian yang Perawinya berjumlah banyak di tiap tingkatan, sehingga MUSTAHIL mereka berdusta.

DILALAH juga terbagi dua, yaitu :
1. Qoth’i : yakni Dalil yang hanya mengandung SATU PENAFSIRAN.
2. Zhonni : yakni Dalil yang mengandung MULTI PENAFSIRAN.

Karenanya, Al-Qur’an dari segi Wurud semua ayatnya Qoth’i, karena sampai kepada kita dengan jalan MUTAWATIR. Sedang dari segi Dilalah maka ada ayat yang Qoth’i karena hanya satu penafsiran, dan ada pula ayat yang Zhonni karena multi penafsiran.

Sementara As-Sunnah, dari segi Wurud, yang Mutawatir semuanya Qoth’i, sedang yang tidak Mutawatir semuanya Zhonni. Ada pun dari segi Dilalah, maka ada yang Qoth’i karena satu pemahaman dan ada pula yang Zhonni karena multi pemahaman.

Selanjutnya, untuk menentukan klasifikasi suatu persoalan, apa masuk Ushul atau Furu’, maka ketentuannya adalah :

1. Suatu Masalah jika Dalilnya dari segi Wurud dan Dilalah sama-sama Qoth’i, maka ia pasti masalah USHUL.
2. Suatu Masalah jika Dalilnya dari segi Wurud dan Dilalah sama-sama Zhonni, maka ia pasti masalah FURU’.
3. Suatu Masalah jika Dalilnya dari segi Wurud Qoth’i tapi Dilalahnya Zhonni, maka ia pasti masalah FURU’.
4. Suatu Masalah jika Dalilnya dari segi Wurud Zhonni tapi Dilalahnya Qoth’i, maka Ulama berbeda pendapat, sebagian mengkatagorikannya sebagai USHUL, sebagian lainnya mengkatagorikannya sebagai FURU’.

Dengan demikian, hanya pada klasifikasi pertama yang tidak boleh berbeda, sedang klasifikasi kedua, ketiga dan keempat, maka perbedaan tidak terhindarkan. Betul begitu ?!

C. CONTOH USHUL DAN FURU’

1. Dalam Aqidah :
Kebenaran peristiwa Isra Mi’raj Rasulullah SAW adalah masalah USHUL, karena Dalilnya QOTH’I, baik dari segi WURUD mau pun DILALAH. Namun masalah apakah Rasulullah SAW mengalami Isra’ Mi’raj dengan Ruh dan Jasad atau dengan Ruh saja, maka masuk masalah FURU’, karena Dalilnya ZHONNI, baik dari segi WURUD mau pun DILALAH.
Karenanya, barangsiapa menolak kebenaran peristiwa Isra’ Mi’raj Rasulullah SAW maka ia telah sesat, karena menyimpang dari USHUL AQIDAH.

Namun barangsiapa yang mengatakan Rasulullah SAW mengalami Isra’ Mi’raj dengan Ruh dan Jasad atau Ruh saja, maka selama memiliki Dalil Syar’i ia tidak sesat, karena masalah FURU AQIDAH.

2. Dalam Syariat :
Kewajiban Shalat 5 Waktu adalah masalah USHUL, karena Dalilnya QOTH’I, baik dari segi WURUD mau pun DILALAH. Namun masalah apakah boleh dijama’ tanpa udzur, maka masuk masalah FURU’, karena Dalilnya ZHONNI, baik dari segi WURUD mau pun DILALAH.

Karenanya, barangsiapa menolak kewajiban Shalat Lima Waktu maka ia telah sesat karena menyimpang dari USHUL SYARIAT. Namun barangsiapa yang berpendapat bahwa boleh menjama’ shalat tanpa ’udzur atau sebaliknya, maka selama memiliki Dalil Syar’i ia tidak sesat, karena masalah FURU SYARIAT.

3. Dalam Akhlaq :
Berjabat tangan sesama muslim adalah sikap terpuji adalah masalah USHUL, karena Dalilnya QOTH’I, baik dari segi WURUD mau pun DILALAH. Namun masalah bolehkah jabat tangan setelah shalat berjama’ah, maka masuk masalah FURU’, karena Dalilnya ZHONNI, baik dari segi WURUD mau pun DILALAH.

Karenanya, barangsiapa menolak kesunnahan jabat tangan antar sesama muslim, maka ia telah sesat, karena menyimpang dari USHUL AKHLAQ.

Namun barangsiapa yang berpendapat tidak boleh berjabat tangan setelah shalat berjama’ah atau sebaliknya, maka selama memiliki Dalil Syar’i ia tidak sesat, karena masalah FURU’ AKHLAQ.

Inilah yang menjadi metolodogi yang disepakati oleh para salaf dan kalaf, guna menjadi panduan dalam bermanhaj. Allah al musta’an
.
.
*Dari salah satu sumber laman facebook

STANDARD KEBENARAN

Dalam ilmu keduniaan kita meyakini bahwa sebuah kebenaran yang telah diuji melalui berbagai eksperimen dan penelitian dari sumber yang ahli di bidang tertentu, maka hal tersebut bisa dikatan ‘benar’. Kita mengenalnya dengan istilah SKRIPSI atau TESIS

Kita bisa mengatakan penyakit AIDS disebabkan oleh virus HIV yang dapat menyerang sistem imun dalam tubuh manusia berdasarkan sumber yang valid dari seorang ilmuan kedokteran. Dan kita menyepakatinya.

Lalu bagaimana kita mencari standar kebenaran dalam hal perkara agama, hal yang ghaib, bertanya tentang adanya surga dan neraka, adanya timbangan amal, siksa dan pahala, adanya kehidupan setelah kematian, dan berbagai pertanyaan lainnya yang tak dapat ditembus oleh akal/logika.

Maka ISLAM datang sebagai _cahaya_ penerang untuk melengkapi ajaran-ajaran sebelumnya yang parsial menuju kesempurnaan ajaran, aturan, tata cara dalam berbagai multidimensi. (moralitas, hukum, politik, ekonomi, militer).

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Ku-cukupkan kepada kalian ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagi kalian “ (QS. Al-Maidah : 3 ).

إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ
وَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُم بَيْنَهُمْ كُلٌّ إِلَيْنَا رَاجِعُونَ
فَمَن يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا كُفْرَانَ لِسَعْيِهِ وَإِنَّا لَهُ كَاتِبُونَ
“Sesungguhnya (agama tauhid) Ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, Maka sembahlah Aku. Dan mereka telah memotong-motong urusan (agama) mereka di antara mereka. kepada kamilah masing-masing golongan itu akan kembali. Maka barang siapa yang mengerjakan amal saleh, sedang ia beriman, Maka tidak ada pengingkaran terhadap amalannya itu dan Sesungguhnya kami menuliskan amalannya itu untuknya.” (QS. Al Anbiya : 92 – 94)

Dalam sejarah proses pemikiran manusia (filsafat/ideologi) kita menemui banyak macam keyakinan bahwa sesuatu dianggap benar melalui metodologi tertentu.
Budha menganggap bahwa untuk mencapai Nirwana harus ditempuh dengan cara Samsara (penderitaan). Dalam doktrin kristiani ada istilah penebusan dosa untuk meraih keselamatan. Dalam islam, kalangan tasawuf meyakini bahwa jalan menuju Tauhid ditempuh dengan cara pencarian jati diri hingga ia mampu mengenali Tuhan melekat dalam diri pribadinya (Manunggaling kawula gusti).
Syiah meyakini bahwa setelah kenabian ada imam 12 yang memiliki ke-maksum-an setara dengan Nabi.

Hingga kemudian Allah menurunkan kitab penerang untuk memisahkan yang haq dan yang batil sebagi petunjuk bagi ummat manusia sepanjang zaman.

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan pada nya dan *petunjuk* bagi orang yang bertakwa.”

Lalu Allah sebagai maha pemilik rencana, telah mempersiapkan masalah beserta solusinya ketika terjadinya
penyimpangan al-haq dan mencegah standard kebenaran menjadi banyak versi, lewat lisan utusanNya sang Al-Mustafa, Muhammad Rasulullah SAW.

“Dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan seluruhnya di neraka kecuali satu, yaitu Al-jamaah”
( HR. Abu Daud, Nasai, Tirmidzi)
Didalam riwayat lain,”Mereka bertanya,’Wahai Rasulullah, siapakah golongan yang selamat ?Beliau saw menjawab,’Siapa yang berada diatas (ajaran) seperti ajaranku hari ini dan para sahabatku.” (HR. Thabrani dan Tirmidzi)

Yaa Ayyuhal Ikhwah,
Jika kita mengagumi Steve Jobs dengan kehebatan inovasi teknologinya, kita adopsi life style nya, kita merasa keren dan hi-tech karenanya. Bagaimana dengan posisi Rasulullah dan para sahabatnya sebagai
perintis ilmu, ideologi, serta budaya yang mampu survive hingga saat ini?

Jika kita mengidolakan Sukarno sebagai pejuang yang menggentarkan seantero Asia pada masanya,
Bagaimana pengagungan kita terhadap Rasulullah dan para sahabatnya yang Allah telah jamin pasti BENAR dan
Allah jaminkan surga atas mereka.

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah 100)

Maka agama ini akan menjadi kuat pondasinya ketika segala permasalahan dikembalikan ke sumber kebenaran itu sendiri yaitu Al-Quran, Sunnah Rasulullah, dengan pemahaman para sahabat yang menyaksikan langsung kebenaran itu turun dari langit. Ketika seorang pelajar mencari ilmu kepada gurunya, seorang mahasiswa berguru kepada dosennya, seorang atlit berlatih bersama pelatihnya, maka sudah menjadi keniscayaan seorang muslim berpegang teguh kepada Alquran, Sunnah Rasulullah dan para sahabatnya.

Inilah yang kemudian disebut dengan “MANHAJ SALAFUSSHALIH

Berkata dan Berbuat sesuai dengan tuntunan yang mereka ajarkan.
Para nabi..
generasi setelahnya..
dan setelahnya..(sahabat, tabiin, tabiut tabiin)

Semoga kita termasuk didalamnya..
Semoga Allah memahamkan kita..

Amiin Allahuma Amiin..

 

TIDAK PERLU POLISI

Pada masa khalifah yang empat tidak ada seorangpun yang diangkat sebagai kepala seksi tindak kriminal/Polisi. Pasalnya kuatnya pengaruh agama saat itu sudah cukup membawa umat Islam untuk bertindak dengan benar dan wejangan keagamaan sudah dapat mencegah mereka dari berbuat zalim. Perselisihan diantara mereka hanya berkisar pada urusan syubhat yang dapat diselesaikan melalui penjelasan dari hakim. Jika diantara orang Arab pedalaman berbuat zalim, wejangan keagamaan sudah cukup membuatnya Insaf dan tindakan tegas sudah dapat mengantarkannya menjadi baik. Jadi para khalifah menyelesaikan sengketa di antara mereka cukup melalui keputusan hakim karena mereka tunduk pada keputusannya.[1]
Risalah tersebut menggambarkan begitu agung nan mulianya sistem tata negara yang berlangsung pada masa nubuwah. Kita bandingkan dengan sistem yang ada sekarang ini, khusus nya bagi negara yang memiliki wilayah yang luas. Perlu menghabiskan anggaran yang besar per tahunnya untuk menggaji aparat polisi.
Belum lagi praktik korupsi yang merajalela.
Seakan-akan banyak penegak hukum (lawyer) namun krisis penegakkan hukum (law enforcement).
Dengan mengadopsi sistem tata negara yang dibangun oleh khulaufaur rasyidin, maka tidak akan ada pemborosan. Anggaran bisa dialokasikan untuk kepentingan ummat di sektor yang lain.
Dengan menjunjung tinggi syariat islam,
keamanat rakyat terjaga..
Hukum berdaulat..
.
.
*Ahkam As-Sulthoniyah hal 146

Syair Islami

Syair Untuk Rohingya

Lautan jasad di tanah Burma
Tergeletak menganga luka prahara
Limbah-limbah nyawa
Program dekonstruksi
Mutilasi generasi..

Beribu mata membisu dibawah bius aksioma,
bahwa kesabaran setipis ketidakpedulian

Bahkan untuk meludahi biksu di negeri kami pun
kami belum berani
Atau untuk sekedar membicarakan pengumpulan financial
agar kami bermimpi dapat merakit
rudal balistik untuk diluncurkan ke atas kepala biadab rakhin
kami pun malas..

Itu pun baru sekedar bermimpi
Kita tidak bisa berbuat apa2..

Semoga ini hanya masalah waktu saja
Untuk kita mempersiapkan perbekalan
yang matang
Merajut ukhuwah, mendamaikan yang berseteru
Mendukung mereka yang
telah siap dibarisan terdepan

Dan kami akan selalu mengatakan
Heyy Tolol!..
Ini bukan konflik primordial atau
insiden kemanusiaan!
Ini adalah peperangan abadi
antara yang hak dan yang bhatil

Ini hanya masalah waktu saja
karena sang pemilik yang fana
dan yang astral tidak buta dan tuli
selama ada usaha dan fikir diantara ummat

Ini hanya masalah waktu saja
dimana mereka yang tua dan lambat
digantikan oleh kaum-kaum
yang tangkas berhati besi
Yang mencintai kematian sebagaimana
mereka mencintai kehidupan
Yang sanggup binasa
Asal akidah selamat..

Dari Bogor hingga Arakan
dari Marawi hingga Raqqah

Ini hanya masalah waktu saja..

Syair Islami

Militan Gadungan

Terdengar suara seperti serdadu
Ternyata bukan
Hanya lalu lalang para Bandar berjanji palsu

Terdengar suara seperti peluru
Ternyata bukan
Hanya amunisi kosong yang gagah dibalik baju

Kata mu rindu
Namun kau masih malu – malu
Kata mu pilu
Namun kau selalu berpaling dan berlalu

Tercium bau seperti mesiu
Ternyata bukan
Hanya proyektil kacangan berbahan terigu

Terdengar suara seperti meriam
Namun hakikatnya hanyalah Remuk redam

Matamu merah padam
Namun kebenaran terus kau pendam
Wajahmu kian lebam
Namun kau malah berbalik arah dan tenggelam

Oh wahai budak Istana..
Terbangunlah dari Ninabobo dan dongeng Cinderela-mu..