Tag Archives: hukum celana isbal

Celana Isbal

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : ” Kainnya seorang mu’min sampai otot betisnya, kemudian ke tengah betisnya kemudian sampai ke kedua mata kakinya, dan yang di bawahnya (di bawah mata kaki) maka dia di neraka.”

Assalamualaykum Ikhwah Fillah ..

Banyak hadist – hadist dari berbagai riwayat yang menyampaikan pentingnya memakai celana di atas mata kaki (untuk ikhwan) bahkan hadist tersebut mencapai derajat mutawatir.
Lalu bagaimana menyikapi fenomena di zaman ini dimana ikhwan – ikhwan yang celananya mengatung ditambah jenggot lebat yang bersarang di dagunya kemudian dihantam dengan berbagai stigma dan stereotip. Ada yang menyebutnya ekstrimis, teroris, atau lebih menghina lagi disebut dengan ‘onta arab’ . . Naudzubillah..

Yang menarik lagi adalah, mengupas hadist dari salah satu sahabat Nabi,

dari Ibnu Umar. Rasulullah SAW bersabda, لاَ يَنْظُرُ اللهُ إِلَى مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ
Allah tidak memandang orang yang menyeret – nyeret pakaiannya dengan penuh kesombongan.
(H.R Bukhari)

Dari kalangan orang – orang moderat yang mengutamakan nalar daripada adab & sunnah, maka vonis ‘sombong’ yang tertera pada hadist tersebut akan menjadi kontekstual dan kultural. Apakah celana yang menyentuh tanah dapat dikatakan sombong, padahal orang tersebut rajin sedekah, orangnya santun, dll ??
Mereka mengatakan bahwa pada zaman itu, mungkin celana yang melebihi mata kaki dianggap sebagai budaya yang sombong.
Lalu apakah ada rincian lebih lanjut dari para sahabat mengenai kriteria sombong itu seperti ini atau seperti itu? sayangnya tidak ada.

Logika seperti ini sama saja dengan quote berikut: “Percuma saja berhijab tapi hati & kelakuannya tidak dihijab”. Padahal konteks syariat (zahir) dan hati (batin) adalah berbeda. zahir dapat dilihat oleh penilaian manusia sedangkan hati & niat hanya Allah lah yang tahu.

Begitulah islam sangat mengutamakan perkara syar’ie yang sampai saat ini tongkat estafet tersebut mampu di warisi oleh para pendahulu kita, para salafus shalih.
Jadi untuk masalah zahiriah, istilah ‘Don’t judge book by its cover’ sayangnya tidak berlaku untuk ummat muslim.
Stelah hujjah tegak ribuan tahun yang lalu, kita diwajibkan untuk menampakan keislaman kita kawan.

Ya anggaplah kita memiliki pendapat lain tentang isbal (celana dibawah mata kaki) maka berlaku adil lah bagi yang ber-cingkrang, jangan ledek & hina mereka yang berkhidmat kepada sunnah.
Itaqullah . . takutlah kepada Allah.. takutlah kepada ancaman yang di firmankan-Nya bagi yang gemar ber-istihza (mengolok – olok), Allah memberikan berita suram kepadanya:

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya bersenda-gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya, kamu selalu berolok-olok?”. [At Taubah:65]

لاَتَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِن نَّعْفُ عَن طَائِفَةٍ مِّنكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ

Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami mema’afkan segolongan dari kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengadzab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. [At Taubah:66].

– huallahualam-

Advertisements
Tagged , , , , ,

Hukum Memakai Celana Ngatung

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : ” Kainnya seorang mu’min sampai otot betisnya, kemudian ke tengah betisnya kemudian sampai ke kedua mata kakinya, dan yang di bawahnya (di bawah mata kaki) maka dia di neraka.”

Assalamualaykum Ikhwah Fillah ..

Banyak hadist – hadist dari berbagai riwayat yang menyampaikan pentingnya memakai celana di atas mata kaki (untuk ikhwan) bahkan hadist tersebut mencapai derajat mutawatir.
Lalu bagaimana menyikapi fenomena di zaman ini dimana ikhwan – ikhwan yang celananya mengatung ditambah jenggot lebat yang bersarang di dagunya kemudian dihantam dengan berbagai stigma dan stereotip. Ada yang menyebutnya ekstrimis, teroris, atau lebih menghina lagi disebut dengan ‘onta arab’ . . Naudzubillah..

Yang menarik lagi adalah, mengupas hadist dari salah satu sahabat Nabi,

dari Ibnu Umar. Rasulullah SAW bersabda, لاَ يَنْظُرُ اللهُ إِلَى مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ
Allah tidak memandang orang yang menyeret – nyeret pakaiannya dengan penuh kesombongan.
(H.R Bukhari)

Dari kalangan orang – orang moderat yang mengutamakan nalar daripada adab & sunnah, maka vonis ‘sombong’ yang tertera pada hadist tersebut akan menjadi kontekstual dan kultural. Apakah celana yang menyentuh tanah dapat dikatakan sombong, padahal orang tersebut rajin sedekah, orangnya santun, dll ??
Mereka mengatakan bahwa pada zaman itu, mungkin celana yang melebihi mata kaki dianggap sebagai budaya yang sombong.
Lalu apakah ada rincian lebih lanjut dari para sahabat mengenai kriteria sombong itu seperti ini atau seperti itu? sayangnya tidak ada.

Logika seperti ini sama saja dengan quote berikut: “Percuma saja berhijab tapi hati & kelakuannya tidak dihijab”. Padahal konteks syariat (zahir) dan hati (batin) adalah berbeda. zahir dapat dilihat oleh penilaian manusia sedangkan hati & niat hanya Allah lah yang tahu.

Begitulah islam sangat mengutamakan perkara syar’ie yang sampai saat ini tongkat estafet tersebut mampu di warisi oleh para pendahulu kita, para salafus shalih.
Jadi untuk masalah zahiriah, istilah ‘Don’t judge book by its cover’ sayangnya tidak berlaku untuk ummat muslim.
Stelah hujjah tegak ribuan tahun yang lalu, kita diwajibkan untuk menampakan keislaman kita kawan.

Ya anggaplah kita memiliki pendapat lain tentang isbal (celana dibawah mata kaki) maka berlaku adil lah bagi yang ber-cingkrang, jangan ledek & hina mereka yang berkhidmat kepada sunnah.
Itaqullah . . takutlah kepada Allah.. takutlah kepada ancaman yang di firmankan-Nya bagi yang gemar ber-istihza (mengolok – olok), Allah memberikan berita suram kepadanya:

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya bersenda-gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya, kamu selalu berolok-olok?”. [At Taubah:65]

لاَتَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِن نَّعْفُ عَن طَائِفَةٍ مِّنكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ

Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami mema’afkan segolongan dari kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengadzab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. [At Taubah:66].

– huallahualam-

Tagged , , , ,