Syair Islami

SIKLUS ANGKARA

Dari bilik dursila
Aku lumuri beranda maya ini
dengan sumpah serapah
Dari sudut ruang leta
Aku cemari halaman digital ini
dengan kutukan

Tak apa, biarkanlah saja
sang pendosa ini meracau
Agar tumpah resah gelisah
dan kita bisa berbicara blak-blak’an

Wahai para raja
Para komandan beserta kontingennya
Para saudagar beserta kafilah-kafilahnya

Aku akan bercerita tentang sebuah kondisi
dimana kita sudah sama-sama tahu
Aku akan menuliskan sebuah gambaran
yang kunamakan “Siklus Angkara”

Demi dzat yang maha cepat perhitungannya..
Telah berlalu waktu-waktu
yang penuh kerusakan
Di segala sudut darat, air, dan udara

Dimulai dari dekonstruksi moral,
proxy war, eliminasi sejarah,
hingga pemurtadan tanpa sadar
Kau bilang ini negeri di awan
Sambil kau simak berita di tv favoritmu
prihal pemboikotan masjid dan
pembubaran pengajian

Kau sebut ini baldlatun tayibatun
Lalu esok harinya isterimu ngamuk-ngamuk
karena uang belanja habis seminggu
setelah gajian

Prinsip mu final dan harga mati!
Walau setiap hari kau habiskan waktu
bersama bau amis ketek orang-orang
dalam commuter line
Lalu berlombalah manusia dalam
mata pencaharian
Dalam pembangunan dan teknologi
Hingga gadget yang mereka genggam
lebih prioritas dari tangisan anak
dan mereka klaim itu sebagai perbaikan
namun sejatinya ia menjadi mesin
penghancur peradaban

Kemudian terciptalah agama-agama baru
hari ini
Dimana materialisme menjadi sakral
dan ucapan seorang yang daif menjadi kudus
Kebenaran dipatok dari IPK, seragam almamater,
dan seberapa sanggup kau capai target perusahaan
Semua yang kita ucapkan tentang uang, skill,
projek akhir tahun, habiskan anggaran!

Dan kita kenyang!

Wahai para cendekia
Para diplomat beserta diwan-diwannya
Para musyrif beserta syababnya

Saksikanlah ratusan juta jiwa dibius lena
Sebagiannya lagi ingin lepas
dari doktrin post Utilitarian
Dimana hospitality dan perlakuan khusus
dipatok dari seberapa banyak
kau punya value dan punya fulus
Tidak untuk dogma-mu !
Singkirkan kesolehanmu di depan
ruang meeting!
Ini dunia profesional bung’
Kamu hina..Kamu anjing!

Yaa saikh kami,
pesan kami dari seorang yang fajir
yang tak lihai berbicara di atas mimbar
sampaikanlah..fahamkanlah..
Bahwa pemutus siklus itu bernama “Syariat”

Sebuah sistem yang meruntuhkan nafsu angkara
Sistem yang membebaskan para mukhlisin
dari borgol ansharut thaghut

Sistem yang membebaskan ummat manusia
dari belenggu sihir korporasi
Dan ketika sampai waktu dimana
bertemunya dua pasukan
Maka itulah saat yang tepat untuk
memutus siklus
Seperti yang telah dilakukan oleh
para pendahulu kita
Para pionir pewaris sistem nubuwwah

Lewat barisan lelaki yang
menghunus besi dengan bagas
yang cemerlang dan tidak lemah akal
Berbahagialah bagi mereka yang menyambutnya..

Advertisements

Syair Islami

Syair Untuk Rohingya

Lautan jasad di tanah Burma
Tergeletak menganga luka prahara
Limbah-limbah nyawa
Program dekonstruksi
Mutilasi generasi..

Beribu mata membisu dibawah bius aksioma,
bahwa kesabaran setipis ketidakpedulian

Bahkan untuk meludahi biksu di negeri kami pun
kami belum berani
Atau untuk sekedar membicarakan pengumpulan financial
agar kami bermimpi dapat merakit
rudal balistik untuk diluncurkan ke atas kepala biadab rakhin
kami pun malas..

Itu pun baru sekedar bermimpi
Kita tidak bisa berbuat apa2..

Semoga ini hanya masalah waktu saja
Untuk kita mempersiapkan perbekalan
yang matang
Merajut ukhuwah, mendamaikan yang berseteru
Mendukung mereka yang
telah siap dibarisan terdepan

Dan kami akan selalu mengatakan
Heyy Tolol!..
Ini bukan konflik primordial atau
insiden kemanusiaan!
Ini adalah peperangan abadi
antara yang hak dan yang bhatil

Ini hanya masalah waktu saja
karena sang pemilik yang fana
dan yang astral tidak buta dan tuli
selama ada usaha dan fikir diantara ummat

Ini hanya masalah waktu saja
dimana mereka yang tua dan lambat
digantikan oleh kaum-kaum
yang tangkas berhati besi
Yang mencintai kematian sebagaimana
mereka mencintai kehidupan
Yang sanggup binasa
Asal akidah selamat..

Dari Bogor hingga Arakan
dari Marawi hingga Raqqah

Ini hanya masalah waktu saja..

Syair Islami

Militan Gadungan

Terdengar suara seperti serdadu
Ternyata bukan
Hanya lalu lalang para Bandar berjanji palsu

Terdengar suara seperti peluru
Ternyata bukan
Hanya amunisi kosong yang gagah dibalik baju

Kata mu rindu
Namun kau masih malu – malu
Kata mu pilu
Namun kau selalu berpaling dan berlalu

Tercium bau seperti mesiu
Ternyata bukan
Hanya proyektil kacangan berbahan terigu

Terdengar suara seperti meriam
Namun hakikatnya hanyalah Remuk redam

Matamu merah padam
Namun kebenaran terus kau pendam
Wajahmu kian lebam
Namun kau malah berbalik arah dan tenggelam

Oh wahai budak Istana..
Terbangunlah dari Ninabobo dan dongeng Cinderela-mu..

Syair Islami

Sajak Badai Api

Masa kejatuhan  raja-raja bersimbah darah
Lewat hukuman cambuk buas cemeti langit
Membelah barisan yang zahir  dan yang majhul
Wanginya tercium hingga ke segala ufuk

Demi Dzat yang maha mengawasi
Demi utara, timur, barat, dan selatan

Inilah Manhaj Nubuwwah..

Sungguh tidak ada yang menegakkan Durus
kecuali ahlus sunnah
Tidaklah ada yg memberikan Taklim
kecuali ahlus sunnah
Tidak ada yang setia mengolah harta, pakaian, dan emas
selain ahlu sunnah
Tidak ada yang menghaluskan qalbu lewat adab-ahlak
selain ahlu sunnah
Tidak ada yang menegakkan amar ma’ruf nahi munkar
kecuali ahlus sunnah
Tidak ada yang meremukkan tengkorak tawaghit
kecuali ahlu sunnah

Yang dengannya keadilan memenuhi segala penjuru mata angin
Lalu telah berdusta lah mereka yang berhujjah tanpa istinbath
Yang condong dengan satu pendirian dan enggan bertasamuh

Sungguh ia telah berkata benar
bagi yang men-takfir dengan tashil dan men-tahzir dengan waqi
atau ia bertawaquf dan menahan lisannya
sementara disekelilingnya bergelimang syubhat muwalah lagi mumtani

Itulah yang menjadi pembeda
antara mukmin dan mujrim..

Yang berbuat ma’ruf pada karib kerabat
dan mendamaikan yang berseteru
Yang membedakan antara tegak hujjah dan faham hujjah

Tiadalah bersedih hati bagi yang menyeru kepada Al-Hanifiyah
selama ada yakfur bi thaghut seberat zarah

Reinkarnasi Milah Ibrahim lewat warisan Superstate
Sebuah mahakarya dari para penghafal Al-Anfal & At Taubah..

Menyambut Badai Api..
Menerjang Halilintar..

Mengukir prestasi

Syair Islami

Senandung Pembebasan

Pembebasan dari penjajahan manusia terhadap sesama manusia
Pembebasan dari sekat-sekat, ide-ide, budaya, suku-bangsa,
batas teritorial yang  bersumber dari buah pikir manusia

Seperti yang dilakukan para pendahulu kita

Dari warisan para ksatria
yang berangkat dari semangat yang sama

Dari cucu-cucu Diponegoro, Cut Nyak Dien,
hingga Abu Wardah

yang mereka mencintai tanah..
mencintai air..
tidak lebih dari mencintai dua kalimat syahadat

Syair Islami

Cemeti Jiwa

Saat malam merambat kelam

Memadu kasih bersama lembaran hikayat
Bercumbu mesra dengan lantunan sholawat

Saat hati & pengelihatan menjadi goncang
Dan lidah – lidah menjadi bungkam

Apa yang membuat diri merasa aman?

Sementara orang-orang muhsin
meniti jalan iman dengan khauf & roja

Ketika hakikat ‘Dien’ diterjemahkan
kedalam berbagai definisi
Sesuai selera
dan menjadi banyak versi

Sungguh,
Setiap paragraf akan dipertanggungjawabkan
dihadapan cemeti – cemeti  Malakul Jahim